Wednesday, July 23, 2014

Gelembung Ego - Part 2 [END]

Melanjutkan tentang Revolusi Mental. Intinya memang harus dimulai dari partikel terkecil dalam suatu bangsa, yaitu dari keluarga, dari diri kita sendiri.

Saya pribadi, sadar betul kalau masih banyak yang perlu diperbaiki pada diri saya. Hal yang terpenting adalah kita sadar dan mau untuk memperbaiki diri sendiri dulu. Saya rasa itu yang terpenting, supaya kita bisa maju.


Contohnya ya, sejak masa kampanye PilPres 2014 ini dan bahkan sampai saat ini, saya disadarkan akan begitu banyaknya perbedaan, terutama perbedaan pikiran. Orang-orang di sekitar saya pun punya pemikirannya sendiri. Bahkan saya sampai bisa mengklasifikasi jenis-jenis orang, misalnya:

1. Netral - tapi condong ke salah satu sisi
(Awalnya) saya kurang begitu mengerti dengan jenis yang satu ini, sebenarnya pada prinsipnya tidak ada masalah, tapi menjadi masalah jika ia mengkritisi habis-habisan orang lain yg menyuarakan pendapatnya. Pokoknya kalau ada orang yang punya jagoan capres, pasti dinyinyirin, entah itu (berusaha) dengan nada positif atau nada negatif, sampai-sampai saya berkesimpulan kalau sebenarnya spesies ini sebenarnya sudah punya pilihan tapi tidak mau mengungkap secara gamblang, mungkin krn menganut azas LUBER? yang menurut saya, it's so 90's ala OrBa.
Harus dipahami oleh semuanya, bahwa demokrasi yang kita nikmati sekarang ini dibayar mahal oleh para pejuang '45, terutama gongnya oleh para pejuang '98. Berapa banyak keluarga yang tidak bisa bertemu lagi dengan anak/suami/bapaknya? Berapa banyak korban yang disiksa secara fisik dan seksual pada saat kejadian itu? Semuanya demi satu hal: Bisa menyuarakan pendapatnya dengan bebas tanpa takut diberangus. Jadi segala akses ke media sosial, internet dan/atau bisa berpendapat secara bebas yang kita nikmati sekarang ini bukan gratis, tapi dibayar MAHAL.
Nah, mungkin saja golongan netral tapi condong ini memiliki trauma tersendiri untuk urusan pesta demokrasi, mungkin saja dulunya memilih presiden kita yang sekarang ini, tapi merasa tertipu? sehingga bentuk kekecewaannya ya begini. Sepertinya banyak yang merasa seperti itu, akhirnya jadi punya sikap apatis berkepanjangan.

2. Netral - GolPut
Hampir sama dengan di atas, tapi yang ini memilih sikap untuk tidak mau peduli (walau pantauan saya kadang2 bersuara protes juga), jadi selama proses mereka tidak mau berpendapat, kebanyakan mengajak orang lain supaya sama dengan dirinya untuk GolPut, yah mungkin karena merasa bangga dengan pilihan sikapnya itu. Agak bingung juga sih, karena tokoh GolPut jaman dulu aja-Pak Arief Budiman dan berbagai tokoh terkenal lainnnya aja memilih untuk memilih lho kali ini.

Kebetulan saya tidak pernah GolPut. I kid you not. Kebetulan juga keluarga saya, apalagi papa saya selalu berdiskusi politik di rumah, jadi memang tidak ada cerita pernah GolPut. Untuk apa? Memangnya dengan saya bayar pajak, mengkritik pemerintah, dan duduk2 diam saja melihat keadaan, semuanya akan membaik? Setidaknya, saya menganggap bahwa pemilu-lah saatnya untuk kita bertindak. Menyuarakan pendapat bukan hanya hak warga negara, tapi kewajiban.
Walaupun memang dulu GolPut itu merupakan suatu tindakan protes, tapi kalau menurut saya, untuk kali ini GolPut merupakan sikap pembiaran. Hanya ignorant saja yang melakukan hal tersebut.


3. Die Hard Fans salah satu Capres-Cawapres
Mungkinkah saya salah satu dari golongan ini? Ya, mungkin saja. Tapi harap dicatat bahwa saya memilih pilihan saya berdasarkan hati nurani, logika dan tidak ada beban moral sama sekali, apalagi untuk kepentingan bisnis/pribadi. Terus terang yah, jika rivalnya bukan Pak Jokowi, maka saya akan memilih nomor 1. Iya beneran ini. Tapi mohon maaf, saya memilih berdasarkan pertimbangan matang dan memang saya sudah mengikuti jejak Pak Jokowi sejak tahun 2005, so I'm not a late learner or even a late bloomer. Saya pendukung orang baik, menurut saya Jokowi lebih baik dari nomor 1. Nah, jadi kalau saja nantinya ada kebijakan beliau yang menurut saya benar namun tidak baik untuk saya, mengapa tidak? Misalnya, PR berikutnya adalah pencabutan subsidi BBM, ya sudah berarti saya harus mulai mempertimbangkan untuk memilih transportasi umum, atau mengikatkan ikat pinggang (atau cari kerja dgn gaji lbh oke lagi? hehehe). Tapi saya yakin kalaupun subsidi BBM itu dicabut, hasilnya untuk rakyat kebanyakan. Sok mengorbankan diri? Ah gak juga, lebih baik menderita sekarang demi masa depan yang lebih cerah. Bersusah-susah dahulu, bersenang-senang kemudian.
Lalu berikutnya, saya percaya kalaupun ada kebijakan pemerintahan yang baru ini tidak benar, inget lho ada rakyat ada di belakangnya. Siapa yang bilang jadi presiden itu enak? Dari sejak masa kampanye saja uang sumbangan untuk tim kampanye luar biasa animonya, penghitungan suara pun dikawal ketat, bagaimana caranya mau mengorbankan rakyat? Yakin tegakah? Kalaupun tega, semua rakyat (baik yang memilih dan tidak memilih beliau) akan aktif mengkritisi ataupun protes besar2an. Oia, paling tidak saya juga tidak takut kalau beliau dikritik, hidup kita tidak akan diteror, tidak khawatir diculik dsb ;-)

Kepanjangan deh tuh jelasinnya.

Oke balik lagi, berlogika secara sehat diimbangi dengan isi hati nurani, itu prinsip hidup yang gak bisa diganggu-gugat. Yang salah itu kalau sampai menjadi fanatik. Semua media massa yang abal-abal dipercaya, makan bulat2 isi kampanye hitam, bahkan lembaga quick count yg tidak kredibel pun dipercaya. Pokoknya buta. Buta mata, buta telinga, buta hati. Macam orang lagi kasmaran berat.

4. Orang-orang seloww (tp sudah punya pilihan)
Saya tidak punya komentar untuk jenis ini. Merely karena saya merasa tidak 'pusing' secara batin :) Bahkan walaupun berbeda pilihan dengan saya, tapi saya hormati itu.

Dengan adanya perbedaan-perbedaan cara pandang, berpikir, bersikap di atas, saya belajar untuk berusaha agar bisa menghargai perbedaan itu, karena memang kita sedang dalam proses pembelajaran untuk yang namanya demokrasi, makna sebenarnya dari demokrasi. Saya juga berusaha untuk lebih sabar, yah walaupun kadang kelepasan snap, tapi kebetulan punya pasangan - my significant other yang bijak, ingetin saya kalau saya dirasa kelewatan senewen, misuh2. Saya belajar untuk bisa berdamai dengan pikiran saya sendiri. Balik lagi, kenapa bisa sebegitunya? Jawabannya: karena kita semua cinta Indonesia. Untuk yang satu itu, saya rasa kita semua sepakat.

Di luar dari semua itu, pemilihan presiden kali ini special, saya bisa rasakan dan lihat sendiri relawan-relawan yang bergerak, tanpa pamrih, tidak mengharapkan imbalan ataupun pujian. Karya2 kreatif, konser musik tanpa dibayar dari para artis pendukung-yg gak pernah sepi penonton, rame bgt malahan! Sampai meme lucuk2. Hihihi. Atau bahkan relawan macam saya ini, tidak pernah disuruh, apalagi dibayar, sebatas social media ikutan kampanye, tujuannya apa sih? supaya menjaga objektivitas dengan adanya serangan-serangan kampanye hitam yang beredar memojokkan Jokowi tanpai bukti sahih. Kok cuma sekedar social media? Terus terang, sekarang ini itu hal yang masih bisa saya lakukan, internet is just a click away. Tidak terjun langsung ke rakyat menemui rakyat? Hehehe.. Saya rasa sekarang ini hal itu tidak perlu dilakukan ya, krn kalau dilakukan hanya pada saat masa kampanye, nanti dibilang pencitraan? Belum bisa sampai seperti Jokowi yang memang sudah melakukannya dari dulu2. Paling tidak itu dulu yg bisa dilakukan, menyebar berita baik, berita positif tentang Jokowi. Di agama saya pun disarankan untuk selalu menebar berita baik. Itu juga yang diajarkan oleh ayah saya. Coba dari hal kecil dulu, misalnya ajak ngobrol tetangga, asisten rumah tangga, sopir taksi, tukang ojek, sopir pribadi, dan masih banyak lainnya. Kerja keras relawan luar biasa deh kali ini. I can feel it and see it. Hasil akhir KPU 53,15%, selisih 6,3% itu tidak sedikit lho, beda 8,4 juta orang. Saya yakin kalau saja tidak banyak yang termakan kampanye hitam, hasilnya bisa lebih signifikan. Bener gak? :)

Selain itu, sedikit cerita waktu tanggal 9 Juli 2014. Tidak pernah dalam proses pemilu, saya dan keluarga sebegitu ingin memantau prosesnya. Bahkan di kompleks tempat tinggal saya, ada 5 TPS, masing-masing kami mengawasi jalannya sampai dengan penghitungan suara. Sempat juga ramai karena ada beberapa asisten rumah tangga berjumlah sekitar 30 orang hampir tidak bisa mencoblos, setelah mendapatkan surat keterangan domisili dari pak ketua RT, everybody's happy. Termasuk mbak saya di rumah lho.

Penghitungan suara juga ramai, tidak hanya dari saksi sah para pasangan Capres, tapi juga dari warga sekitar yang ingin ikut lihat hasilnya, direkam dgn video dari smartphone masing-masing, hasil form C-1 difoto. Luar biasa. Sampai tiba momen saat sejumlah relawan dari segala penjuru inisiatif membuat rekapitulasi penghitungan suara mulai dari tingkat kelurahan-kecamatan-kabupaten-provinsi, dengan www.kawalpemilu.org. Cerita di balik itu luar biasa, sistem yang dibangun hanya dalam waktu kurang dari 2 minggu dengan input data berdasarkan scan form2 C1 - DA1 - DB1-DC1 langsung dari website KPU. Sebenarnya itu merupakan bukti, kalau ada kemauan pasti ada jalan, kalau tidak ada 'kepentingan' pasti bisa dijalankan. Saya salut dan terharu betul dengan kejadian ini.



Artinya apa? Rakyat Indonesia merindukan dan mengharapkan perubahan.

Selamat datang PERUBAHAN!


Selamat kepada Bapak Jokowi dan Bapak Jusuf Kalla sebagai Presiden dan Wakil Presiden terpilih periode 2014-2019. Semoga amanah yang diemban dapat selalu dijaga sesuai dengan visi misi untuk kepentingan rakyat. Jalan yang telah dilalui tidak mudah, apalagi jalan yang akan dihadapi. Tapi kami percaya dengan doa dan restu Tuhan, maka semua akan berjalan lancar.

Selamat untuk semua rakyat Indonesia!!!

PS: Dengan ini saya harapkan agar semua gelembung ego yg tadinya berjalan sendiri-sendiri dapat diletuskan, melebur jadi satu, untuk kepentingan kita bersama. Demi Indonesia jaya!

Wednesday, July 16, 2014

Gelembung Ego - Part 1

(6 hari menjelang pengumuman hasil PilPres)

Udah ada disclaimer di atas, tandanya aku mau ngomongin tentang PilPres 2014 ini, sepertinya di blog ini belum pernah ya nulis tentang politik, eh bahkan udah lama gak ngeblog juga sih *lap2 blog yang udh usang ini*.

Buat sebagian orang mungkin alergi ya kalo ngomongin politik, coba ditelisik lagi kenapa bisa apatis? Mungkin karena Indonesia tercinta kita ini sudah terlalu lama dikotori oleh perbuatan orang2 kotor? atau mungkin ada juga yang males tahu perkembangan politik karena TRAUMATIS? Iya, trauma karena pilihan jagoannya dulu si biru 1 bisa dibilang memimpin dan tidak memimpin negara kita ini, yah gue bilang sih autopilot mode lah selama 10 tahun :)

Jadi for some people, politic is filthy, have you ever thought, gak cuma politik aja yang bisa kotor, tapi sektor lain juga bisa kok, di dalam pekerjaan, bisnis, ataupun pendidikan. Terang ya bukan karena sektornya, tapi karena kelakuan orang-orangnya.



Revolusi Mental
Gue mengalami yang namanya konflik batin, konflik tersebut seiring dengan pertumbuhan gue yang dididik dan dibesarkan dari keluarga idealis.

Ya, bisa dibilang idealis karena orang tua saya, khususnya si babeh, struggling hard for his life, for our live, dari bawah banget sampai bisa seperti sekarang ini, hidup cukup, tidak berlebihan ya, tapi cukup.

Sebuah bangsa akan maju jika dimulai dari setiap keluarga yang baik. Keluarga gue selalu mengedepankan prinsip jujur, jadi memang di sekeliling saya, keluarga saya semuanya adalah pekerja, tidak ada yang tentara, kalaupun PNS, aslik hidup jujur. Yakin cid? Yakin banget. Pakde saya saja PNS Bea Cukai- institusi-yang-katanya-basah, sampai akhir hidupnya tidak punya kendaraan pribadi, hidup sederhana, padahal almarhum merupakan salah satu petinggi di satu wilayah. Bangga? Pastinya! Begitu juga dengan Eyang Bapak (Kakung) saya, beliau juga merupakan mantan pejabat, yang kalau saya lihat (di luar keluarga) orang lain dengan pangkat tersebut, sampai sekarang saja masih kaya melintir lho, sementara peninggalan almarhum hanya 1 rumah biasa dan 1 mobil butut hehe. Gak lupa salute untuk ompung doli (kakek dari papa), ex-akuntan yang keterlaluan lurusnya, patah arang kerja di perusahaan minuman karena disuruh buat 2 pembukuan, lalu berusaha jadi peternak dan gagal karena almarhum sejak dulu bukan petani/peternak, sehingga mengakibatkan papa saya bersaudara makan saja sulit.

Hal-hal ini yang mengakibatkan saya bisa bersuara vokal terhadap orang-orang di sekeliling saya yang makan dari hasil korupsi. Konflik batin terjadi ketika saya sadar bahwa sudah jadi hal yang dimaklumkan dan dimafhumkan kalau orang tua/saudara teman saya yang notabene PNS, tentara, apalagi pejabat, merupakan kewajaran kalau mereka ini kaya (tajir melintir)?! Ada apa sebenarnya?
Mental kita sudah terlalu bobrok!

Di keluarga saya kita sering berdiskusi tentang kebobrokan ini, kenapa korupsi jadi suatu hal yang wajar? kenapa sulit sekali untuk hidup sederhana dan gak banyak mau. Saya sering menyuarakan pendapat saya, bahwa hidup ini selalu dimulai dari keluarga, setuju kan ya? keluarga juga yang punya sensor/kontrol sosial terhadap perbuatan orangtua/suami/istri/anak/menantu dst, keluarga punya peranan besar untuk menciptakan keluarganya menjadi keluarga yang hidup cukup tanpa banyak mau, banyak mau ini mengakibatkan rongrongan terhadap bapa/ibu/suami/istri kita untuk mencari jalan cepat, yaitu korupsi. Tapi karena hal ini sudah berlangsung terlalu lama, sehingga akhirnya dianggap wajar. Itu yang gue gak bisa terima.

Mau tidak peduli? Bisa aja for some people, tapi tidak untuk saya. Saya memilih untuk peduli dengan keadaan kita yang sudah runyam seperti sekarang ini.

Harus disadari, kalau belajar dari sejarah dunia, sebuah negara dan bangsa yang maju biasanya mengalami REVOLUSI, di Inggris - revolusi mesin industri, di Finlandia - revolusi pendidikan. Tapi apa iya harus melalui revolusi berdarah-darah, tentu tidak. Masih ada cara lain. Salah satu negara yang berhasil menjalankan revolusi mental adalah Korea Selatan. Sebelum kita menjalankan hal ini, kita harus satu suara dulu, kalau Indonesia memiliki banyak masalah. Kan gitu ya, orang kalau mau cari solusi harus tahu dulu akar permasalahannya, baru deh bisa maju cari solusi, kalau gak tahu apa duduk permasalahannya, pasti akan sulit ketemu jalan keluarnya. Nah, kalau menurut saya masalah kita bukan terletak di sumber daya alam-nya, bukan karena keBOCORannya (relate much?), tapi karena MANUSIA-nya. Kalau hanya menitikberatkan pada masalah sumber daya alam, kemunduranlah yang akan kita alami, jangan punya mental kolonialisme, it's so old story.

Mudah-mudahan udah terang benderang ya, jangan malah mengasosiasikannya dengan paham komunisme. Kalau masih ada yang bingung, monggo dibaca tulisan Pak Joko Widodo tentang ini: http://www.jokowi.id/berita/revolusi-mental/

to be continued...





LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...