Wednesday, July 16, 2014

Gelembung Ego - Part 1

(6 hari menjelang pengumuman hasil PilPres)

Udah ada disclaimer di atas, tandanya aku mau ngomongin tentang PilPres 2014 ini, sepertinya di blog ini belum pernah ya nulis tentang politik, eh bahkan udah lama gak ngeblog juga sih *lap2 blog yang udh usang ini*.

Buat sebagian orang mungkin alergi ya kalo ngomongin politik, coba ditelisik lagi kenapa bisa apatis? Mungkin karena Indonesia tercinta kita ini sudah terlalu lama dikotori oleh perbuatan orang2 kotor? atau mungkin ada juga yang males tahu perkembangan politik karena TRAUMATIS? Iya, trauma karena pilihan jagoannya dulu si biru 1 bisa dibilang memimpin dan tidak memimpin negara kita ini, yah gue bilang sih autopilot mode lah selama 10 tahun :)

Jadi for some people, politic is filthy, have you ever thought, gak cuma politik aja yang bisa kotor, tapi sektor lain juga bisa kok, di dalam pekerjaan, bisnis, ataupun pendidikan. Terang ya bukan karena sektornya, tapi karena kelakuan orang-orangnya.



Revolusi Mental
Gue mengalami yang namanya konflik batin, konflik tersebut seiring dengan pertumbuhan gue yang dididik dan dibesarkan dari keluarga idealis.

Ya, bisa dibilang idealis karena orang tua saya, khususnya si babeh, struggling hard for his life, for our live, dari bawah banget sampai bisa seperti sekarang ini, hidup cukup, tidak berlebihan ya, tapi cukup.

Sebuah bangsa akan maju jika dimulai dari setiap keluarga yang baik. Keluarga gue selalu mengedepankan prinsip jujur, jadi memang di sekeliling saya, keluarga saya semuanya adalah pekerja, tidak ada yang tentara, kalaupun PNS, aslik hidup jujur. Yakin cid? Yakin banget. Pakde saya saja PNS Bea Cukai- institusi-yang-katanya-basah, sampai akhir hidupnya tidak punya kendaraan pribadi, hidup sederhana, padahal almarhum merupakan salah satu petinggi di satu wilayah. Bangga? Pastinya! Begitu juga dengan Eyang Bapak (Kakung) saya, beliau juga merupakan mantan pejabat, yang kalau saya lihat (di luar keluarga) orang lain dengan pangkat tersebut, sampai sekarang saja masih kaya melintir lho, sementara peninggalan almarhum hanya 1 rumah biasa dan 1 mobil butut hehe. Gak lupa salute untuk ompung doli (kakek dari papa), ex-akuntan yang keterlaluan lurusnya, patah arang kerja di perusahaan minuman karena disuruh buat 2 pembukuan, lalu berusaha jadi peternak dan gagal karena almarhum sejak dulu bukan petani/peternak, sehingga mengakibatkan papa saya bersaudara makan saja sulit.

Hal-hal ini yang mengakibatkan saya bisa bersuara vokal terhadap orang-orang di sekeliling saya yang makan dari hasil korupsi. Konflik batin terjadi ketika saya sadar bahwa sudah jadi hal yang dimaklumkan dan dimafhumkan kalau orang tua/saudara teman saya yang notabene PNS, tentara, apalagi pejabat, merupakan kewajaran kalau mereka ini kaya (tajir melintir)?! Ada apa sebenarnya?
Mental kita sudah terlalu bobrok!

Di keluarga saya kita sering berdiskusi tentang kebobrokan ini, kenapa korupsi jadi suatu hal yang wajar? kenapa sulit sekali untuk hidup sederhana dan gak banyak mau. Saya sering menyuarakan pendapat saya, bahwa hidup ini selalu dimulai dari keluarga, setuju kan ya? keluarga juga yang punya sensor/kontrol sosial terhadap perbuatan orangtua/suami/istri/anak/menantu dst, keluarga punya peranan besar untuk menciptakan keluarganya menjadi keluarga yang hidup cukup tanpa banyak mau, banyak mau ini mengakibatkan rongrongan terhadap bapa/ibu/suami/istri kita untuk mencari jalan cepat, yaitu korupsi. Tapi karena hal ini sudah berlangsung terlalu lama, sehingga akhirnya dianggap wajar. Itu yang gue gak bisa terima.

Mau tidak peduli? Bisa aja for some people, tapi tidak untuk saya. Saya memilih untuk peduli dengan keadaan kita yang sudah runyam seperti sekarang ini.

Harus disadari, kalau belajar dari sejarah dunia, sebuah negara dan bangsa yang maju biasanya mengalami REVOLUSI, di Inggris - revolusi mesin industri, di Finlandia - revolusi pendidikan. Tapi apa iya harus melalui revolusi berdarah-darah, tentu tidak. Masih ada cara lain. Salah satu negara yang berhasil menjalankan revolusi mental adalah Korea Selatan. Sebelum kita menjalankan hal ini, kita harus satu suara dulu, kalau Indonesia memiliki banyak masalah. Kan gitu ya, orang kalau mau cari solusi harus tahu dulu akar permasalahannya, baru deh bisa maju cari solusi, kalau gak tahu apa duduk permasalahannya, pasti akan sulit ketemu jalan keluarnya. Nah, kalau menurut saya masalah kita bukan terletak di sumber daya alam-nya, bukan karena keBOCORannya (relate much?), tapi karena MANUSIA-nya. Kalau hanya menitikberatkan pada masalah sumber daya alam, kemunduranlah yang akan kita alami, jangan punya mental kolonialisme, it's so old story.

Mudah-mudahan udah terang benderang ya, jangan malah mengasosiasikannya dengan paham komunisme. Kalau masih ada yang bingung, monggo dibaca tulisan Pak Joko Widodo tentang ini: http://www.jokowi.id/berita/revolusi-mental/

to be continued...





No comments:

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...