Lagi produktif banget beberapa hari ini, semakin sibuk semakin aktif
berpikir.
Kali ini mau bahas tentang KORUPSI.
Kenapa sih orang (harus) korupsi?
Memang tidak bisa disangkal kalau sifat manusia selalu tidak pernah puas
dalam hidup, selalu sering merasa kurang dan kalau pun sudah lebih dari cukup
masih saja ingin yang lebih lagi.
Menurut gue, agar tidak terjebak dalam godaan syaitonirojim, ada baiknya
kita melakukan hal-hal sebagai berikut:
1. Punya harga diri dan gengsi yang tinggi
Harga diri dan gengsi tinggi itu penting dalam hal ini, kalo gue sih
lebih mending gak punya suatu barang daripada harus punya dengan cara korupsi.
Di benak gue, ogah deh, gak ada kepuasan dan kebanggaan bisa beli barang tanpa
kerja keras, tanpa harus nabung, tanpa harus berhemat. Gue rasa gue -
suami/keluarga cukup mampu untuk mencari uang halal dengan menggunakan
intelektualitas, pengetahuan dan pengalaman gue. Memang katanya kan koruptor
itu justru pinter2 yah, karena bisa menggunakan kepintarannya untuk menutupi
jejak korupsi. Tapi rasanya malu deh sama diri sendiri, mau pakai barangnya aja
isin, risih. Gak keren deh! Apa enaknya begitu?
2. Keluarga yang berprinsip
Kuncinya:
tidak perlu banyak mau.
Iya, siapa sih yang gak suka barang bagus? Siapa yang gak kepengen punya
mobil dan rumah bagus? Tas keren bermerek aneka rupa? Liburan keluar negeri
belanja sesuka hati?
Pasti itu hidup impian kebanyakan orang.
Disini keluarga memegang peranan penting. Kebetulan ibu gue termasuk
orang yang sederhana, gak ngerti dandan, orangnya cuek, dan emang lempeng aja
cara berpikirnya. Begitu juga dengan bapak gue, berawal dari kakek-nenek gue
yang di awal kehidupan berumah tangga mereka lumayan berkecukupan, tapi karena
prinsip tidak mau korupsi/manipulasi, akhirnya ompung doli patah arang jadi
akuntan, dan harus banting setir jadi peternak, itu pun gagal karena dari dulu
dia memang sekolah terus, walaupun bapaknya (buyut gue) petani, tapi di
keluarganya dia satu2nya yang tidak pernah pegang pacul. Sebegitu idealisnya
sampai anak2nya termasuk bapakku harus bertani, cari makan ternak, dan juga
jualan di pasar. Pokoknya sesusah2nya hidup, sudah dirasakan. Sampai sekarang
gue lihat sendiri bapakku itu walaupun sepatunya udah rusak tapi tetap
dibener-benerin solnya, bukannya rusak langsung buang dan beli baru, padahal
mampu. Dari dulu pun kita anak2nya kalau beli baju dan sepatu baru ya cuma pada
saat Natal dan Lebaran. Di luar dari itu tidak pernah dibelikan. Bahkan gue sama
adek gue baru tahu yang namanya uang pada saat kita SMA, diajarkan untuk
menabung di bank, buka rekening sendiri, ingin sesuatu? Ya dari hasil tabungan
atau akan dibelikan kalau berprestasi. Kita dibiasakan untuk menulis budget,
memberikan kwitansi/struk pembayaran kalau habis belanja, jadi gak pernah
ngarang2/tipu2 babeh, apa yang dibeli ya dipertanggungjawabkan, dan anehnya
kita gak pernah merasa kalau sebenarnya kehidupan kita lebih dari cukup (baru
ngeh skr lol), gak juga jadi pongah dan congkak. Orang tua gue cukup ketat
urusan beginian. Hal ini jadi terbawa sampai sekarang, gue jarang banget beli
baju, baju gue ya itu2 aja, tas gue juga begitu2 aja, sepatu pun hehehe. Santai
aja, bisa tetep kece kan haha, bukan sok keren, tapi emang gak butuh, buat apa
dibeli?
Jadi, kalau kita berasal dari keluarga yang selow, gak banyak mau, dan
jadi anak-istri tidak merongrong bapak/suaminya, gue rasa seorang bapak tidak
akan pusing untuk ingin memenuhi permintaan tertier keluarganya. Walaupun dia
ingin, tapi keluarga bisa saling mengingatkan. Tidak apa jika semua itu berasal
dari uang halal.
3. Mental yang kuat
Katanya kalau kita orang lurus, tapi di sekitar kita banyak orang gila,
akhirnya malah jadi kita yang gila. Lawan arus – anti mainstream diperlukan
dalam hal ini. Buat apa ikut arus yang menyesatkan, yang bikin tambah dosa dan
nantinya akan bikin masalah untuk diri sendiri dan keluarga?
4. Setia pada Tuhan dan keluarga
Walaupun Indonesia bukan negara berdasarkan agama, tapi disini
kebanyakan orang beragama. Tapi apakah ber-Tuhan? Terus terang, gue gak habis
pikir, bisa2nya bawa2 agamanya tapi kelakuan jauh sekali dengan ajaran Tuhan.
Lagi2 peranan keluarga besar dalam hal ini. Buat gue, lebih penting mengerti
dan melakukan ajaranNya daripada sekedar menghafal ayat2 kitab suci.
Implementasi lebih penting. Gue percaya hidup kita di dunia ini hanya sebentar,
masih ada lagi akhirat pada saat kita mati. Harta pun tidak dibawa mati. Gue
yakin semua agama mengajarkan kebaikan, tidak ada agama yang tujuannya buruk.
Saya tidak takut apapun, kecuali takut sama Tuhan. Perbuatan selama hidup akan
dimintakan pertanggung jawabannya di akhirat. Gue juga masih banyak kekurangan,
tapi mudah2an niat untuk hidup benar bisa gue jalanin.
Korupsi juga bisa disebabkan karena tuntutan keluarga, apalagi kalau
berpoligami – gue gak akan bahas kaidah dari agama, tapi dengan adanya poligami
ini, maka kemungkinan akan punya anak lebih banyak, tentu saja pengeluaran pun akan
bertambah. Sorry to say, tapi masa gara2 urusan selangkangan nafsu birahi, hidup lo jadi
ribet ruwet rumit, ngasi makan banyak mulut dan akhirnya harus melakukan
tindakan korupsi. Sayangi istrimu, sayangi suamimu, komit dan setia dengan
janjimu sehidup semati.
Katakan TIDAK pada korupsi!





