Friday, October 31, 2014

Kenapa (Harus) Korupsi?


Lagi produktif banget beberapa hari ini, semakin sibuk semakin aktif berpikir.
Kali ini mau bahas tentang KORUPSI.

Kenapa sih orang (harus) korupsi?

Memang tidak bisa disangkal kalau sifat manusia selalu tidak pernah puas dalam hidup, selalu sering merasa kurang dan kalau pun sudah lebih dari cukup masih saja ingin yang lebih lagi.

Menurut gue, agar tidak terjebak dalam godaan syaitonirojim, ada baiknya kita melakukan hal-hal sebagai berikut:

1.      Punya harga diri dan gengsi yang tinggi
Harga diri dan gengsi tinggi itu penting dalam hal ini, kalo gue sih lebih mending gak punya suatu barang daripada harus punya dengan cara korupsi. Di benak gue, ogah deh, gak ada kepuasan dan kebanggaan bisa beli barang tanpa kerja keras, tanpa harus nabung, tanpa harus berhemat. Gue rasa gue - suami/keluarga cukup mampu untuk mencari uang halal dengan menggunakan intelektualitas, pengetahuan dan pengalaman gue. Memang katanya kan koruptor itu justru pinter2 yah, karena bisa menggunakan kepintarannya untuk menutupi jejak korupsi. Tapi rasanya malu deh sama diri sendiri, mau pakai barangnya aja isin, risih. Gak keren deh! Apa enaknya begitu?

2.      Keluarga yang berprinsip
Kuncinya:
tidak perlu banyak mau.
Iya, siapa sih yang gak suka barang bagus? Siapa yang gak kepengen punya mobil dan rumah bagus? Tas keren bermerek aneka rupa? Liburan keluar negeri belanja sesuka hati?
Pasti itu hidup impian kebanyakan orang.
Disini keluarga memegang peranan penting. Kebetulan ibu gue termasuk orang yang sederhana, gak ngerti dandan, orangnya cuek, dan emang lempeng aja cara berpikirnya. Begitu juga dengan bapak gue, berawal dari kakek-nenek gue yang di awal kehidupan berumah tangga mereka lumayan berkecukupan, tapi karena prinsip tidak mau korupsi/manipulasi, akhirnya ompung doli patah arang jadi akuntan, dan harus banting setir jadi peternak, itu pun gagal karena dari dulu dia memang sekolah terus, walaupun bapaknya (buyut gue) petani, tapi di keluarganya dia satu2nya yang tidak pernah pegang pacul. Sebegitu idealisnya sampai anak2nya termasuk bapakku harus bertani, cari makan ternak, dan juga jualan di pasar. Pokoknya sesusah2nya hidup, sudah dirasakan. Sampai sekarang gue lihat sendiri bapakku itu walaupun sepatunya udah rusak tapi tetap dibener-benerin solnya, bukannya rusak langsung buang dan beli baru, padahal mampu. Dari dulu pun kita anak2nya kalau beli baju dan sepatu baru ya cuma pada saat Natal dan Lebaran. Di luar dari itu tidak pernah dibelikan. Bahkan gue sama adek gue baru tahu yang namanya uang pada saat kita SMA, diajarkan untuk menabung di bank, buka rekening sendiri, ingin sesuatu? Ya dari hasil tabungan atau akan dibelikan kalau berprestasi. Kita dibiasakan untuk menulis budget, memberikan kwitansi/struk pembayaran kalau habis belanja, jadi gak pernah ngarang2/tipu2 babeh, apa yang dibeli ya dipertanggungjawabkan, dan anehnya kita gak pernah merasa kalau sebenarnya kehidupan kita lebih dari cukup (baru ngeh skr lol), gak juga jadi pongah dan congkak. Orang tua gue cukup ketat urusan beginian. Hal ini jadi terbawa sampai sekarang, gue jarang banget beli baju, baju gue ya itu2 aja, tas gue juga begitu2 aja, sepatu pun hehehe. Santai aja, bisa tetep kece kan haha, bukan sok keren, tapi emang gak butuh, buat apa dibeli?
Jadi, kalau kita berasal dari keluarga yang selow, gak banyak mau, dan jadi anak-istri tidak merongrong bapak/suaminya, gue rasa seorang bapak tidak akan pusing untuk ingin memenuhi permintaan tertier keluarganya. Walaupun dia ingin, tapi keluarga bisa saling mengingatkan. Tidak apa jika semua itu berasal dari uang halal.

3.      Mental yang kuat
Katanya kalau kita orang lurus, tapi di sekitar kita banyak orang gila, akhirnya malah jadi kita yang gila. Lawan arus – anti mainstream diperlukan dalam hal ini. Buat apa ikut arus yang menyesatkan, yang bikin tambah dosa dan nantinya akan bikin masalah untuk diri sendiri dan keluarga?

4.      Setia pada Tuhan dan keluarga
Walaupun Indonesia bukan negara berdasarkan agama, tapi disini kebanyakan orang beragama. Tapi apakah ber-Tuhan? Terus terang, gue gak habis pikir, bisa2nya bawa2 agamanya tapi kelakuan jauh sekali dengan ajaran Tuhan. Lagi2 peranan keluarga besar dalam hal ini. Buat gue, lebih penting mengerti dan melakukan ajaranNya daripada sekedar menghafal ayat2 kitab suci. Implementasi lebih penting. Gue percaya hidup kita di dunia ini hanya sebentar, masih ada lagi akhirat pada saat kita mati. Harta pun tidak dibawa mati. Gue yakin semua agama mengajarkan kebaikan, tidak ada agama yang tujuannya buruk. Saya tidak takut apapun, kecuali takut sama Tuhan. Perbuatan selama hidup akan dimintakan pertanggung jawabannya di akhirat. Gue juga masih banyak kekurangan, tapi mudah2an niat untuk hidup benar bisa gue jalanin.
Korupsi juga bisa disebabkan karena tuntutan keluarga, apalagi kalau berpoligami – gue gak akan bahas kaidah dari agama, tapi dengan adanya poligami ini, maka kemungkinan akan punya anak lebih banyak, tentu saja pengeluaran pun akan bertambah. Sorry to say, tapi masa gara2 urusan selangkangan nafsu birahi, hidup lo jadi ribet ruwet rumit, ngasi makan banyak mulut dan akhirnya harus melakukan tindakan korupsi. Sayangi istrimu, sayangi suamimu, komit dan setia dengan janjimu sehidup semati. 

Katakan TIDAK pada korupsi!

Thursday, October 30, 2014

Syukuran Ulang Tahun

Tahun lalu ulang tahun hepi2 di Solo.

Tahun ini hepi2nya di Jakarta aja, makan sama keluarga di Satoo, ucap syukur diberi kesehatan oleh Tuhan dan semoga berumur panjang. Amin.





Kira-kira tahun depan ngapain yah ^^

33rd Birthday

20 October 2014

Filled with love from everybody!

My husband stays awake (while I was already sleeping) as his effort to congratulate me on 12am. Actually just found out from mom that I was born on 12.05am.

Then, on 3 am, my gorge bff - Edna text me. Ha! I love this girl.

The next morning, Nita call - I miss you! Cepet ktemu ya nek!

And there are messages from loving people:

<3 td="">
On the afternoon, I spent a whole day pampering myself, went to Bersih Sehat - merely because I need a deep tissue massage and then go to Itje Her to get a facial and hair spa.

The idea was that me and hubber wanted to hang out in a lounge, however when we've arrived at home, we were too lazy to go out again, darn you traffic! Hahaha. So yeah, we spent the night chatting and teasing each other. I could not ask for anything better than that. I love my birthday.

Wishes?

I only have one wish.

To be a mother. Soon.

Amen.


Wednesday, October 29, 2014

Toxic Friends

Akhir-akhir ini sering denger omelan orang2 di sekitar.

Ngomel tentang status/postingan:
  1.  Selfie - wefie, ya gitu lah!
  2.  Ibu2 muda baru beranak
  3.  Cewek2 yg baru jadi newlyweds atau pasangan yang senang menunjukkan kemesraan PDA
Semua hal/momen di atas dituangkan melalui social media, ya status ya foto di Path, Facebook, Instagram, Twitter, Blog.

Katanya, "duh gak bosen apa foto kok selfie melulu?" "Sok cakep banget deh!" "Ih narsis amat!"
Oia sekalian mau ingetin, selfie bukan nama orang, bukan juga difotoin orang, arti selfie kira2 begini:
Selfie should be a picture of self taken by self; hence, the name,"selfie." It's not a picture of self taken by someone else, that's just called a snap of self, or a profile, not a selfie.
Lanjut ya..

Katanya, "ampun deh gak ada hal lain apa selain fotoin anak mulu?" "gak takut ya kasus pelecehan anak?"

Katanya,"iya dehhh yg baru kawin" "beuh, yg paling mesra sedunia (yg lain ngontrak)"

Emang udah sifat manusia yah yg suka komentar, bernada sirik dan nyinyir, kaya sendirinya aja gak begitu! Siapa disini yg tidak suka pamer? Hayo tunjuk tangaann..

Entah itu pamer lagi makan enak, pamer tas/baru atau pake baju apa, pamer pacar baru, pamer check-in lagi traveling dimana.

Harus gue akui, gue juga sering komentar begini, tapi lama2 sadar tuh! Tampar diri sendiri aja, duh cid, gak usah sirik deh! Jadi sekarang diusahakan selalu berpikir positif dan cuek ajalah.


Memang keberadaan social media itu ya begitu itu, untuk sharing, tau kabar temen tanpa harus bertanya (ini efek kurang bagusnya). Daripada capek negative thinking melulu, kan mendingan gak usah tau sama sekali ttg orang itu?

Gue termasuk aktif di semua social media, tapi gue cukup punya prinsip untuk urusan sharing, prinsip maksudnya gue usahain untuk gak over sharing, masih punya dong privasi hidup, walopun kita bukan artis ibukota hehe. Path gue cukup untuk orang2 yg gue nyaman aja, kalo mau contact gue bisa via facebook atau say hi di whatsapp/line dll. Jadi emang masing2 socmed gue punya lingkaran sendiri, bahkan di facebook pun gue atur siapa bisa liat apa, siapa gak bisa apa. Gue juga gak takut tuh dicap segala macem org mau cap gue apaan aja, gue tulis apa yg gue pikirin dan juga gue termasuk orang yang berani untuk bersikap dan menuangkan isi pikiran gue itu. Lah kalo tidak senang ya silahkan delete aja. Gitu aja kok repot :)



Seperti sekarang pada banyak yg komplen tentang postingan orang2, dan gue pun skr komplen ttg komplenan itu, hahahaha inception much? Bukan (sok) anti mainstream - dimana semua orang sekarang seneng ngebully orang lain yg tidak berkenan isi postingannya, tapi hidup dibikin simple aja yuk!

Hidup ini gak usah dibikin ribet, ruwet dan drama.

Kalau memang tidak senang dengan postingan temen/kenalan kamu dan cuma bikin hari2 kamu dikelilingi teman2 yg kamu anggap beracun dan akhirnya bikin kamu seneng menggunjingkan dia? ya gampang aja, unshare, unfriend, unfollow.

As easy as 1, 2, 3.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...