
Here it is, an e-mail without any preface, straight to the poem:
Wahai Ilalang
Ku ingin berbisik padamu di sore hari ini …
Apalagi mentari mulai beranjak ke peraduan
Diam bungkam dalam di balik kelambu malam
Apa kabarmu sore Ini …?
Teriknya mentari di kala siang
Mengguratkan dahaga dalam pelukan kesejukan
Lelehan keringat menjadi bukti kerasnya perjuangan hidup
Dan...kau ilalang...
Banyak sudah memberi pelajaran....
Bagaimana agar tetap survive di tengah gurun kegersangan
Kau tak pernah mengeluh....
...tapi tetap teguh untuk hidup dan memberi manfaat
Wahai ilalang
Ku ingin bermanja di hamparan daunmu
Singkirkan semua keangkuhan yang pernah menjelma
...yang sering berlindung di balik topeng tuk rendahkan sesama
Merasa paling sibuk dan paling penting
Sementara orang lain tidak lebih sub ordinan pelengkap masa
Sedikit hasrat beramal dengan apa yang dipunya
Karena merasa semua hasil kerja keras kita
...padahal semua hanyalah jembatan antara
Karena pemilik sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pemurah
Wahai ilalang...
Engkau telah banyak memberi inspirasi
Walau tak ada seorangpun ingin menjadi Ilalang ...
Yang hanya bisa diinjak ....
Diremehkan ....
Seolah tiada guna ...dan manfaat
Ilalang ...
Adalah lambang pengabdian tulus pada sang Kuasa
Yang masih tetap mampu berpijak ketika badai menerjang
Lentik daunmu berkejaran menggapai angin dan membentuk sebuah sinergi
Ingin ku terus bermanja denganmu
Curahkan cerita-cerita cinta dan cita
Dan biarkan daunmu memelukku....
Dalam hasrat dan doa...
Sahabatku...
Apa yang akan kita bangun...
Akhirnya akan hancur ...
Usia kita sebentar lagi akan habis...
Ditelan zaman dan badan kita akan ditimbuni tanah merah
Teman setia kita hanyalah amal - amal sholeh
Di sinilah ku merenung
...tepat di depan gundukan tanah merah berupa permadani alam
No comments:
Post a Comment